Bertahan dari Gempuran Petaka di Jalan

PARA orang tua mesti cerdas dan peka untuk melindungi anaknya yang di bawah umur terhindar dari ancaman petaka di jalan raya. Fakta sudah memperlihatkan bahwa 70-an anak di bawah umur bergelimpangan akibat kecelakaan pada 2013. Itu di seluruh Indonesia.

Anak-anak di bawah umur itu ada yang terluka dan ada yang meninggal dunia. Indonesia wajib berdukacita mengingat mereka adalah tunas harapan bangsa. Kehidupan bangsa kelak ada di tangan anak-anak sebagai generasi penerus.

Pada praktiknya, di tengah masyarakat kita, para orang tua berusaha sekuat tenaga untuk melindungi keselamatan sang anak yang di bawah umur. Langkah paling awal adalah dengan tidak mengizinkan sang anak yang dibawah umur untuk mengendarai kendaraan bermotor. Kemampuan anak di bawah umur dalam berkendara, termasuk sepeda motor, terancam oleh labilitas emosi dan kemampuan fisik mengimbangi bobot kendaraan. Potensinya amat besar untuk terlibat kecelakaan. Apalagi, anak di bawah umur umumnya tidak menyadari atau mampu mempertanggung jawabkan apa yang sudah dilakukannya. Karena itu, perundangan yang ada di negara kita habis-habisan melindungi anak di bawah umur.

Untuk urusan di jalan raya, Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dengan tegas mengatakan bahwa mereka yang berhak mendapat surat izin mengemudi (SIM) adalah mereka yang minimal berusia 17 tahun. Artinya, sudah melewati batas di bawah umur.

Setelah langkah awal di lakukan, namun kondisinya memaksa, para orang tua semaksimal mungkin melindungi anaknya. Saat bersepeda motor, seperti pemandangan yang saya lihat pada Jumat, 11 April 2014 di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, seorang perempuan mengikatkan sang anak anak ketubuhnya. Sang anak yang di bawah umur diikat dengan menggunakan kain. Naluri alamiah orang tua bekerja, melindungi sang anak.

Apa pun jenis kendaraannya, upaya orang tua melindungi anak di bawah umurnya menjadi mutlak. Bagi mereka yang mengendarai mobil pribadi, sang anak dilindungi dengan menempatkannya di kursi bagian belakang dan menggunakan sabuk pengaman. Sang anak diajarkan agar tidak mengganggu konsentrasi sang pengemudi.

Bagi pengguna angkutan umum, sang anak diajarkan tidak mengeluarkan anggota tubuh saat berada di dalam angkot. Bahkan, saat berjalan kaki atau menyeberang, sang anak berada di posisi yang terlindungi para orang dewasa.

Ya. Kita para orang tua punya kewajiban melindungi anak di bawah umur dari petaka di jalan raya. Bukan lantaran mereka semata sebagai tunas harapan bangsa, tapi mereka adalah penerus orang tua yang kelak bisa membahagiakan orang tua mereka yang memasuki usia senja. (edo rusyanto)

| Tinggalkan komentar

Ketika Setengah Juta Manusia Mengiringi Pemakaman Sri Sultan HB IX

TIGA abad yang lalu, gunung bergemuruh ketika Sultan Agung mangkat. Babad Tanah Jawi mencatat itu. Pekan lalu, Sultan Hamengku Buwono IX wafat, dan tak ada gemuruh gunung dan tak ada gempa. Yang ada gemuruh lain: ratusan ribu manusia membanjir berbelasungkawa, sejak jenazah tiba dari Jakarta sampai dengan tubuh itu diiringkan dengan kereta berkuda ke bukit-bukit kering di Imogiri.

Seorang wanita tua di dekat Bandar Udara Adisucipto bahkan terdengar menangis, “Duh, Gusti, duh, Gusti….” Barangkali sebuah babad lain akan mencatat bahwa inilah pemakaman terbesar di abad ke-20, dalam hal jumlah manusia yang ikut serta. Dan banyak yang bakal setuju. “Ngarsa Dalem telah membuat pangeram-eram,” bisik seorang tamu kepada Pangeran Hadiwinoto, salah seorang putra raja Yogya yang wafat itu, ketika melihat hampir setengah juta manusia datang menyambut. Dan Hadiwinoto kemudian sadar: benar, Hamengku Buwono IX telah membuat sesuatu yang menakjubkan.

Hujan juga turun, tak disangka, setelah tiga bulan kota kering seperti konon itulah kebiasaan bila ada anggota keluarga keraton Yogya meninggal. Hujan juga tumben turun di Washington, D.C., ketika jenazah Sri Sultan disemayamkan di KBRI dan ketika diberangkatkan ke Jakarta, Selasa yang lalu. Sebuah teja aneh berwarna putih bahkan tampak di atas langit Imogiri ketika pemakaman berlangsung, dan dua burung hitam yang membisu hinggap di tembok makam. Tapi, lebih dari segalanya, yang menggetarkan buat raja yang juga demokrat itu ialah rakyat, rakyat, rakyat. Rakyat itu pula yang sejak Jumat jam 14.00 hingga Sabtu jam 05.00 pagi pekan lalu antre untuk melihat dan menyembahyani jenazah Sri Sultan. Tak diketahui persis berapa jumlahl nya. Seorang abdi dalem keraton hanya mencatat bahwa sekitar 150 orang tiap menit masuk ke istana, untuk menghormati Sultan, yang hari itu terbaring di Bangsal Kencono itu tempat yang terakhir kali, di Hari Raya tahun 1986, ia pakai untuk duduk siniwoko, sebagai penguasa. Dari masa 16 jam hari itu, sebanyak 115 buku tamu habis, setelah mencatat 18 ribu pengunjung — padahal hanya sebagian pelayat yang mengisinya. Semuanya tanpa kegaduhan yang mengganggu. Keraton telah mengaturnya dengan rapi, meskipun tanpa ada panitia yang dibentuk. Agaknya, dalam tradisi yang telah berlangsung bertahun-tahun, suatu organisasi telah tersusun dan bisa berfungsi dengan baik. Sebutlah “Tepas Duworopuro”, misalnya. Lembaga ini yang mengurus pelayat. Sebut juga “tepas-tepas” (kantor dinas) lain, yang semuanya dikoordinasikan oleh “Parentah Ageng Keraton”, yang saat itu dipimpin oleh seorang yang sangat berwibawa, kakak Sri Sultan, G.B.P.H. Poeroebojo. Tapi hanya karena itukah semuanya rapi? Tampaknya tidak. Mungkin karena wibawa keraton, mungkin karena rasa hormat yang telah terbentuk beratus tahun, mungkin juga karena inilah kelebihan Yogya yang kini tampak bersih itu: selain kerapian di sekitar Bangsal Kencono yang angker dalam perkabungan itu, di luar ada kerapian yang lebih mengagumkan: rakyat Yogya yang sabar dan takzim.

Biarpun dalam berdesak-desak beberapa puluh orang luka, di antaranya patah kaki dan satu kemudian meninggal, pada dasarnya kekacauan tak ada. Seorang duta besar asing memberi komentar, melihat berjubelnya rakyat yang diatur oleh hanya beberapa orang polisi itu, “Di tempat lain, yang akan terjadi adalah kerusuhan.” Bahkan hujan yang cukup deras setengah jam tak membuat orang panik ataupun bergeming malam itu. “Pokoknya, saya harus bisa sungkem di depan Sultan, Mas,” kata Wardoyo, pedagang pasar berumur 48 tahun. Ia berdiri di situ sejak jam 13.30. Wardoyo sengaja datang dari Wonosobo. Ia memang anak seorang bekas abdi dalem keraton Yogya. Kata scorang pelayat lain, Joyodikromo, 67 tahun, tentang alasannya mau antre berjam-jam itu, “Anggaplah ini ungkapan prasetia kepada Ngarsa Dalem. Hanya ini bakti saya.” Tapi tak semua memang datang dengan niat seperti itu. Banyak yang hanya ingin tahu. Seorang yang kedapatan menangis di alun-alun utara ternyata juga punya alasan lain: ia tidak menangis untuk Sri Sultan, tapi ia kena pentungan polisi, ketika berebut mendesak. Tak semua juga tanpa kegembiraan. Tempat penyewaan pakaian peranakan, baju tradisional untuk pemakaman, laris. Bahkan juga penjahit, yang bekerja ekstra untuk melayani pesanan mendadak. Orang Yogya, termasuk mahasiswa, rupanya ingin ikut berduka ke Imogiri. Toko karangan bunga pada gilirannya ketawa. “Baru kali ini kami menikmati jerih payah membangun kios ini sejak 25 tahun lalu,” kata Wiro, pemilik kios bunga. Ia mendapat 250 pesanan. Harganya dari 10 ribu hingga Rp 300 ribu. Tapi bagaimanapun, malam itu adalah malam berdoa. Sebanyak 90 kelompok pengajian tampak bersembahyang di samping jenazah — meskipun, untuk menghormati Sultan, mereka tak pernah bisa lebih dekat dari 10 meter di bangsal yang berumur 232 tahun itu.

Beberapa kali, bergiliran, rombongan wanita berbaris. Mukena mereka yang putih membentuk kontras yang syahdu pada latar bangsal yang merah dan oranye itu. Mereka khusyuk, di tepi sebuah ruangan luas yang redup. Di atas, yang ada hanya 48 buah lampu 40 watt, sumber-sumber cahaya yang terserak di langit-langit pendopo dalam kap-kap yang berukir. Dan dalam ketemeraman yang sama, satu rombongan biarawati Katolik hadir dalam doa, sementara di lantai lebih bawah ada sederet orang bersemadi cara Jawa. Dari sini pula terdengar seorang meratap, “Duh, Gusti, nyuwun pangapunten…” (Duhai, Paduka, maafkanlah hamba). Tapi suasana berkabung yang mencekam sesungguhnya berlangsung sebelum itu: Jumat pagi, ketika jenazah tiba dari Lapangan Udara Adisucipto. Suasana sangat hening, sejak dari alun-alun utara, tempat hanya ada suara wanita membaca Quran di menara masjid. Harum melati dan mawar dan dupa di mana-mana, dan tak mengherangkan: menurut B.R.A.Y. Kuswarjanti, seorang putri Sultan, ada tiga kuintal melati dan sekuintal mawar dipakai di pekabungan itu — dua kuintal di antaranya sumbangan Universitas Gadjah Mada. Apalagi di halaman Bangsal Ponconiti, di bawah relung Bale Antiwahono, di depan Gerbang Sri Manganti — semuanya di arah masuk utara Istana. Kira-kira setengah jam setelah lonceng keraton Kiai Brajanala disentakkan 9 kali, mobil ambulans yang dirakit istimewa — disiapkan dalam dua hari dengan nomor AB 9901 AA, datang. Tubuh Hamenku Buwono IX terbujur di dalamnya, dalam sebuah peti mati dari Amerika yang seberat 350 kilo dan panjang tiga meter. Untuk kedatangannyalah semua menunggu. Di pelataran dan di sekitar Bale Antiwahono, sepasukan elite ABRI, di bawah Kolonel Suranto, Dan Rem 071 Purwokerto, siap. Warna-warna baret mereka, merah, hijau, jingga, dan biru tua nampak seperti berkilat di bawah matahari pagi dan dikelilingi warna bangunan keraton yang redup itu. Empat belas prajurit Kopassus dengan baju tempur akan mengangkat peti yang berat itu, sementara 10 prajurit berbaret hijau dari Kostrad, tegak di sebelah kiri dan kanan ruangan, berdiri menyiapkan tembakan salvo.

Begitu ambulans tiba, para abdi dalem dalam pakaian peranakan yang biru gelap duduk bersimpuh di tanah. Seorang yang kebetulan berada dekat jenazah, tetap tegak, tapi ia memejamkan matanya seperti semadi. Para pangeran, calon menantu, dan para istri Sultan, termasuk Ny. Norma atau K.R.A. Nindyokirono yang baru datang dari Jakarta bersama jenazah, berdiri. Mangkubumi, putra tertua Sultan, dan Menteri Soepardjo Rustam, berjajar. Soepardjo Rustam bertugas menyerahkan jenazah dari pemerintah ke tangan keluarga. Mangkubumi, tinggi tegap dengan mengenakan kain bercorak Tirtoteja yang agak terang, dan dengan keris upacara Toya Tinaban di pinggang, mewakili keluarga. Tiba-tiba, peristiwa di luar acara terjadi. Seorang perempuan tua mendesak maju, menyeruak di antara para kerabat dekat keraton. Para petugas dan abdi dalem kaget, lalu mencegahnya. Tapi wanita itu lalu menjeritkan tangis yang menyayat dalam keheningan itu. Ia setengah memprotes, kenapa ia dihalangi, “Apa mentang-mentang saya ini rakyat kecil, lantas tak boleh melihat Sultan.” Tak ada sebenarnya yang tak boleh melihat Sultan raja yang begitu disenangi banyak orang itu, sultan yang mungkin lebih besar ketimbang raja Mataram lainnya itu, termasuk Sultan Agung (lihat Kolom Umar Kayam, halaman 91).

Belasungkawa untuknya telah jadi sesuatu yang universal. Presiden Reagan, yang telah menyediakan pesawat khusus kepresidenan Air Force Two, sebuah Boeing 707 berwarna putih-biru muda, juga mengirimkan kawat ke Presiden Soeharto, “Saya bersedih hati mendengar meninggalnya salah satu dari pahlawan negeri tuan….” Sultan Brunei mengirimkan seorang menteri, utusan khusus buat perkabungan ini. Presiden Soeharto — yang dekat dengan Sultan selama gerilya sampai dengan ketika harus memimpin Indonesia dari reruntukan ekonomi Orde Lama — bahkan menyempatkan menginap semalam di Gedung Agung sebelum paginya mengantar jenazah Sultan menjelang diberangkatkan ke Imogiri. Di depan Presiden pagi itulah peti, yang diletakkan di altar yang ditutupi batik cokelat keemasan, corak ‘Kampuh Tengahan’, dan diselimuti Sang Merah Putih, dibuka. Di dalamnya Sri Sultan terbungkus pakaian putih secara Islam. Mungkin karena ia wafat di AS, ia sempat tak diberi pakaian adat Jawa. Mungkin juga karena ia tak memerlukan itu lagi. Aturan adat toh tak dilupakan: di jenazah itu ada untaian melati bawang sepanjang semeter, dua kendi, kain mori putih, sapu lidi dan kentongan bambu — suatu syarat karena almarhum dimakamkan di hari Sabtu. Kemudian gending Monggang yang lirih dan suram itu pun berbunyi, dilantunkan oleh gamelan Kiai Guntur Laut — konon berasal dari zaman Majapahit di abad ke-14.

Jenazah, pada jam 08.30 itu, diangkat oleh 14 prajurit Kopassus, bersama dengan para pangeran. Di bawah payung agung Songsong Jene, perjalanan kebesaran ke bukit Imogiri dimulai. Langkah pelan, dengan Pak Harto dan Ibu Tien di antara pengiring yang hening itu, menapak ke arah selatan. Di Regol (Pintu) Magangan, peti dengan tubuh raja itu pun dinaikkan ke kereta berkuda yang telah menanti. Presiden, Pangeran Poeroebojo, dan Pangeran Mangkubumi melepas. Dari sini Sri Sultan Hamengku Buwono IX tak kembali lagi. Zaim Uchrowi, Budiono Darsono, Priyono B. Sumbogo, Goenawan Mohamad. Sumber: tempointeraktif.com, Foto koleksi pribadi mastonie-go2blog.blogspot.com. sumber :http://jogjakini.wordpress.com/2012/02/11/ketika-setengah-juta-manusia-mengiringi-pemakaman-sri-sultan-hb-ix/

| Tinggalkan komentar

Ketika Dana Tower Itu Ada

Rasanan Dana Tower

Dana 10.000.000 itu mutlak milik warga RT 4, atas dasar pemberian konpensasi pendirian tower di wilayah RT 04. Ijin pendidirian tower adalah Ijin lingkungan, dengan radius 90 m. Atas dasar tali kasih dari warga RT 04 maka RT 03 dan 05 di beri Rp. 500.000,-

Dengan pertimbangan :

  1. Dana itu multlak menjadi hak RT 04 karena hanya ijin lingkungan (radius 90 m)
  2. Warga RT 03 dan RT 05 telah terbebas dari hutang pengaspalan jalan PPIP th 2009, Dana konpensasi dari pembuatan pol Po. Efisiensi yang seharusnya milik RT 04 (Rp. 4.500.000) telah di berikan untuk menutup kekurangan pengaspalan jalan  PPIP 2009. Seharusnya warga RT 3,  4 dan 5 yang melunasi kekurangan tersebut.
  3. Warga RT 04 mempunyai program untuk membeli pompa air dan perlengkapannya guna mensuplai air bersih untuk warga RT 04. Dari Dana sebesar itupun maka Warga RT 04 masih masih harus menambah iuran lagi.
  4. Warga di luar RT 04 terjebak dalam isu bahwa RT mereka mereka akan mendapat kas   Rp. 3.000.000. Oleh karena itu mereka tidak mau menerima uang Rp. 500 ribu tersebut. Yang menjadi masalah adalah siapa si penebar isu bahwa RT 3 dan 5 akan mendapatkan dana sebesar itu? Sepengetahuan saya belum ada keputusan rapat yang menyatakan bahwa RT 3 dan 5 akan mendapat kas   Rp. 3.000.000.

Rasanan Sisa Dana LMPD

Sehubungan dengan telah berakhirnya kepengurusan LMPD di tahun 2010 maka pengurus telah menyampaikan laporan pertanggungjawaban (LPJ) di forum warga tanggal 12 Agustus 2010 (terlampir)

Maka masih ada sisa dana kas LMPD sebesar Rp. 2.278.500,- yang sekarang ini berada di tempat BP. Suratman RT 04 karena waktu itu tidak ada seorangpun yang bersedia membawanya. Dana tersebut merupakan murni kas LMPD, bukan sisa Dana Gotong Royong dari pemerintah, karena dana gotong royong sendiri telah habis di gunakan seperti dalam laporan.

Dana sisa Kas LPMD itu bisa segera di cairkan semestinya dalam forum resmi. Jadi dalam hal ini, mohon segera mengadakan pertemuan antara warga RT 03, 04, dan 05 sementara RT 01, dan 02 mestinya juga punya hak atas kas tersebut.

Harapan.

  1. Antar warga seharusnya bisa bermusyawarah tanpa harus saling menncari kesalahan pihak lain.
  2. Jangan suka melempar isu atau membuat komentar yang justru akan membuat warga resah.
  3. Mengedepankan rasa saling menghargai dan saling menghormati
  4. Saling menumbuhkembang rasa persatuan dan kesatuan serta jangan berbuat atau berprilaku yang sebaliknya.
  5. Serta ingat pepatah “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak
Sampingan | Posted on by | Tinggalkan komentar

Korban Kecelakaan

62% Kemiskinan Akibat Kecelakaan Lalu Lintas

SEMARANG, suaramerdeka.com – Banyaknya korban meninggal dunia, luka berat, dan cacat berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat yang menyebabkan pemiskinan. Secara nasional, tercatat 62% keluarga jatuh miskin setelah salah satu anggota keluarganya meninggal karena kecelakaan. Secara nasional, kerugian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp 205-210 trilyun setiap tahunnya.

Berdasarkan kenyataan itulah, Direktorat Lalu Lintas Polda Jateng bertekad mengurangi angka kecelakaan hingga 50%.

“Korban kecelakaan pasti memerlukan biaya besar untuk rumah sakit jika luka. Belum lagi kalau kepala keluarga meninggal. Maka mata pencaharian akan hilang, inilah yang menyebabkan pemiskinan,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Jateng, Kombes M Naufal Yahya, Jumat (2/12).

Ditlantas juga mempersiapkan berbagai program untuk menekan angka kematian akibat kecelakaan. Di Indonesia, menurut Naufal, kematian akibat kecelakaan sangat besar, yakni sekitar 30 ribu orang setiap tahun. “Di semarang perkiraan saya sekitar 5 ribu,” kata Ditlantas yang belum ada sebulan menjabat ini.

Mantan Kabag Kamsel Korlantas Polri itu membuat langkah-langkah berdasarkan instruksi Polri melalui Program Nasional Dekade Aksi Keselamatan. Program yang di-launching 20 Juli lalu oleh Wakil Presiden Budiono itu merupakan resolusi WHO untuk menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di dunia 2011-2020.

Program tersebut mempunyai lima pilar yang harus diperhatikan. Yakni manajemen keselamatan, rekayasa jalan, kendaraan, peningkatan kesadaran dan kemampuan manusia dalam berkendara serta respon setelah kejadian kecelakaan.

“Kita akan mulai dengan membuat data base kecelakaan; dari angka kecelakaan, korban, kerugian, faktor penyebab, semuanya. Tanpa data yang benar kita tidak bisa buat rencana startegis,” tukasnya. ( Anton Sudibyo / CN33 / JBSM )

| Tinggalkan komentar

Etika Berkendara

Sebelum kita lebih jauh lagi bercerita tentang etika berkendara hingga timbul keamanan dan kenyamanan perlu kita tinjau kembali ada 2 hal yang perlu kita ketahui hingga akan tercipta suatu kondisi yang nyaman dan selalu merasa aman dalam berkendaraan yaitu :
1. Faktor intern (Dalam)
Faktor intern adalah faktor yang terdapat dalam pribadi pengendara yaitu segala sesuatu yang menunjang hingga terciptanya rasa aman dan nyaman dalam berkendaraan ialah sikap ketika kita berkendara.

Ketika kita dituntut untuk mematuhi peraturan lalulintas yang di buat olek pihak berwenang dalam hal ini polisi lalu lintas yang dibuat tidak lain untuk terciptanya rasa aman dan nyaman dalam berkendaraan. Namun nyatanya sangat minim kesadaran pengendara untuk mematuhinya, jauh dari pada itu suatu etika yang sangat salah ketika sebuah pabrik kendaraan bermotor telah mendesain kendaraan bermotor itu dengan segala macam pertimbangan untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan dalam berkendaraan tapi banyak dari sikap pengendara yang dengan seenaknya mendesain ulang tanpa pertimbangan dan pemikiran tentang keselamatan dan kenyamanan dalam berkendara.

Suatu contoh yang sangat umum dapat kita lihat ketika tidak sedikit pengendara yang membuka kaca spion tampa memikirkan akibatnya bahwa suatu pabrik kendaraan bermoror memakia kaca spion pada kendaraan untuk kemudahan kita dalam melihat kondisi belakang kita saat dalam berkendaraan.

2. Faktor Ekstern (Luar)
Untuk faktor ekstern yang perlu kita ketahui adalah suatu sikap yang timbul karena ada dorongan atau pengaruh dari luar. Biasanya terjadi ketika lingkungan tepat kita tinggal atau komunitas kita sedang ngetren atau asyik dalam memodif kendaraannya. Tetapi yang salah dari modif itu adalah tidak memperhatikan sama sekali terhadap keselamatan dan kenyamanan dalam berkendaraaan.

Hal-hal yang harus dimiliki/dilakukan oleh seorang pengemudi

Pengemudi harus punya Lisensi Card (SIM)
Pengemudi harus selalu memakai kenderaan yang layik jalan sesuai standar, baik tingkat emisi, kebisingan, kelengkapan atribu t (lampu, rem, spion, ban, dll)
Pengemudi harus memahami dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas dengan benar
Pengemudi harus selalu memakai sabuk pe ngaman (kenderaan roda empat ke atas), helm bagi kenderaan roda dua dan tiga
Pengemudi dilarang memakai NAZA (Narkoba dan Zat Aditive)
Pengemudi dilarang memakai Handphone, ipod (Handset buat mendengar musik, radio online, dll)
Pengemudi dalam perjalanan jarak jauh dilarang mengkonsumsi minuman berkarbonate karena dapat membuat ngantuk
Pengemudi dilarang berkenderaan jika n gantuk
Pengemudi dilarang kebut-kebutan
Pengemudi harus selalu waspada deng an lingkungannya.

Teknik berkendara yang baik dan benar

1. Melihat.
2. Mengidentifikasi,
3. Memperkirakan.
4. Mengambil keputusan,
5. Melaksanakan keputusan.

Kecelakaan lalu lintas (pasal 27 uu.no.14 th 1992)
(1) Pengemudi yang terlibat kecelakaan lalu linatas, wajib :
a. Menghentikan kendaraan
b. Menolong orang yang menjadi korban laka.
c. Melaporkan laka tsb kpd kepolisian terdekat.
(2)apabila dlm keadaan memaksa tidak dapat melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b,tetap diwajibkan segera melaporkan diri kepada kepolisian terdekat.

Penggunaan jalur jalan (pasal 51 pp. No. 43 th 1993)
1. Tata cara berlalu lintas mengambil jalur jalan sebelah kiri
2. Penggunaan selain jalur kiri apabila :
a. Melewati kendaraan didepan
b. Ditunjuk / ditetapkan petugas yg berwenang

Tata cara melewati
(pasal 52 pp. No. 43 th 1993)
1. Harus mempunyai pandangan yang bebas & menjaga ruang yang cukup bagi kendaraan yg dilewatinya;
2. Mengambil lajur/jalur sebelah kanan kendaraan yang dilewatinya;
3. Dalam keadaan tertentu boleh sebelah kiri, bila :
a. Lajur kanan macet
b. Bermaksud belok kiri

Peraturan yang telah di buat bukan untuk dilanggar tetapi untuk di taati karena yakinlah ketika kita mengendarai kendaraan dengan patuh dan taat pada peraturan, maka rasa aman dan nyaman akan hadir dalam setiap pengendara, dan perlu kita ketahui bersama tidak ada bahwa tidak ada peraturan lalu lintas yang dibuat merugikan pengendara.

Diposkan oleh ### JULIANTI ###

| Tinggalkan komentar

Nikmatnya Sedekah

NIKMATNYA SEDEKAH Nov 3, ’08 3:01 AM
untuk semuanya

Misalkan gaji anda hanya Rp.1 juta, sedangkan kebutuhan mencapai Rp.3 juta, bagaimana cara menutupnya dengan sedekah? Taruhlah setelah mendapat pencerahan, anda berniat sedekah sesuai anjuran agama, sekitar 2,5% dari penghasilan. Berarti sedekah anda 2,5% x Rp.1 juta = Rp.25.000,-. Secara fisik, uang anda berkurang (Rp.1 juta – Rp.25.000,-) menjadi Rp.975.000,-, namun secara metafisik uang anda sebenarnya Rp.975.000,-+Rp.250.000,- (Allah menjanjikan setiap sedekah minimal dikalikan 10) = Rp.1,25 juta. Jauh dibawah kebutuhan, ’kan? Bagaimana jika sedekah dinaikkan menjadi 10%? Hitung sendiri detailnya, tetapi paling-paling anda hanya mendapat Rp.1,9 juta. Tetap jauh panggang dari api. Nah, agar sedekah itu mentok, titk tolaknya bukan dari pendapatan, tetapi kebutuhan. Jadi, jika anda bersedekah 10% (10%x 3juta= Rp.300.000,-), “balasannya” kira-kira Rp.700.000,- (sisa gaji) + Rp.3 juta (sedekah dikalikan 10) = Rp.3,7 juta. Sudah melewati target? Pasti!
(Ustad Yusuf Mansyur; INTISARI, Oktober 2006)
.
Kesimpulan :
Agama Islam memberlakukan 3 jenis zakat sebagai manifestasi dari anjuran tersebut :
1. Zakat harta, setahun sekali sebesar 2,5 % dari jumlah harta.
2. Zakat penghasilan, perkebunan, perniagaan dan lain-lain sebesar 2,5 % dari penghasilan perbulan.
3. Zakat fitrah, 2,5 kg beras perjiwa setiap tahun.

BAHAGIA :
– Kalau kau ingin bahagia 1 (satu ) jam maka tidur sianglah.
– Kalau ingin bahagia 1 ( satu ) hari maka pergilah memancing.
– Kalau kau ingin bahagia 1 (satu) bulan maka kawinlah.
– Kalau kau ingin bahagia 1 ( satu ) tahun maka warisi harta orang tua.
– Kalau kau ingin bahagia selama-lamanya maka bantulah orang lain.

HIDUPLAH DENGAN :
1. BER-IBADAT sebagaimana Nabi/Rasul beribadat.
2. BER-PRINSIP dalam hidup sebagai PENGABDI.
3. BER-ABDI dalam mental sebagai PEJUANG.
4. BER-JUANG dalam kegigihan dan ketabahan sebagai PRAJURIT.
5. BERKARYA dalam Pembangunan sebagai PEMILIK.

| Tinggalkan komentar

Shohibul Qurban th 2011/1432 H Masjid Al Ma arij Mancasan

Daftar Nama Shohibul Qurban th 2011/1432 H Masjid Al Ma arij Mancasan

| Tinggalkan komentar