Ketika Setengah Juta Manusia Mengiringi Pemakaman Sri Sultan HB IX

TIGA abad yang lalu, gunung bergemuruh ketika Sultan Agung mangkat. Babad Tanah Jawi mencatat itu. Pekan lalu, Sultan Hamengku Buwono IX wafat, dan tak ada gemuruh gunung dan tak ada gempa. Yang ada gemuruh lain: ratusan ribu manusia membanjir berbelasungkawa, sejak jenazah tiba dari Jakarta sampai dengan tubuh itu diiringkan dengan kereta berkuda ke bukit-bukit kering di Imogiri.

Seorang wanita tua di dekat Bandar Udara Adisucipto bahkan terdengar menangis, “Duh, Gusti, duh, Gusti….” Barangkali sebuah babad lain akan mencatat bahwa inilah pemakaman terbesar di abad ke-20, dalam hal jumlah manusia yang ikut serta. Dan banyak yang bakal setuju. “Ngarsa Dalem telah membuat pangeram-eram,” bisik seorang tamu kepada Pangeran Hadiwinoto, salah seorang putra raja Yogya yang wafat itu, ketika melihat hampir setengah juta manusia datang menyambut. Dan Hadiwinoto kemudian sadar: benar, Hamengku Buwono IX telah membuat sesuatu yang menakjubkan.

Hujan juga turun, tak disangka, setelah tiga bulan kota kering seperti konon itulah kebiasaan bila ada anggota keluarga keraton Yogya meninggal. Hujan juga tumben turun di Washington, D.C., ketika jenazah Sri Sultan disemayamkan di KBRI dan ketika diberangkatkan ke Jakarta, Selasa yang lalu. Sebuah teja aneh berwarna putih bahkan tampak di atas langit Imogiri ketika pemakaman berlangsung, dan dua burung hitam yang membisu hinggap di tembok makam. Tapi, lebih dari segalanya, yang menggetarkan buat raja yang juga demokrat itu ialah rakyat, rakyat, rakyat. Rakyat itu pula yang sejak Jumat jam 14.00 hingga Sabtu jam 05.00 pagi pekan lalu antre untuk melihat dan menyembahyani jenazah Sri Sultan. Tak diketahui persis berapa jumlahl nya. Seorang abdi dalem keraton hanya mencatat bahwa sekitar 150 orang tiap menit masuk ke istana, untuk menghormati Sultan, yang hari itu terbaring di Bangsal Kencono itu tempat yang terakhir kali, di Hari Raya tahun 1986, ia pakai untuk duduk siniwoko, sebagai penguasa. Dari masa 16 jam hari itu, sebanyak 115 buku tamu habis, setelah mencatat 18 ribu pengunjung — padahal hanya sebagian pelayat yang mengisinya. Semuanya tanpa kegaduhan yang mengganggu. Keraton telah mengaturnya dengan rapi, meskipun tanpa ada panitia yang dibentuk. Agaknya, dalam tradisi yang telah berlangsung bertahun-tahun, suatu organisasi telah tersusun dan bisa berfungsi dengan baik. Sebutlah “Tepas Duworopuro”, misalnya. Lembaga ini yang mengurus pelayat. Sebut juga “tepas-tepas” (kantor dinas) lain, yang semuanya dikoordinasikan oleh “Parentah Ageng Keraton”, yang saat itu dipimpin oleh seorang yang sangat berwibawa, kakak Sri Sultan, G.B.P.H. Poeroebojo. Tapi hanya karena itukah semuanya rapi? Tampaknya tidak. Mungkin karena wibawa keraton, mungkin karena rasa hormat yang telah terbentuk beratus tahun, mungkin juga karena inilah kelebihan Yogya yang kini tampak bersih itu: selain kerapian di sekitar Bangsal Kencono yang angker dalam perkabungan itu, di luar ada kerapian yang lebih mengagumkan: rakyat Yogya yang sabar dan takzim.

Biarpun dalam berdesak-desak beberapa puluh orang luka, di antaranya patah kaki dan satu kemudian meninggal, pada dasarnya kekacauan tak ada. Seorang duta besar asing memberi komentar, melihat berjubelnya rakyat yang diatur oleh hanya beberapa orang polisi itu, “Di tempat lain, yang akan terjadi adalah kerusuhan.” Bahkan hujan yang cukup deras setengah jam tak membuat orang panik ataupun bergeming malam itu. “Pokoknya, saya harus bisa sungkem di depan Sultan, Mas,” kata Wardoyo, pedagang pasar berumur 48 tahun. Ia berdiri di situ sejak jam 13.30. Wardoyo sengaja datang dari Wonosobo. Ia memang anak seorang bekas abdi dalem keraton Yogya. Kata scorang pelayat lain, Joyodikromo, 67 tahun, tentang alasannya mau antre berjam-jam itu, “Anggaplah ini ungkapan prasetia kepada Ngarsa Dalem. Hanya ini bakti saya.” Tapi tak semua memang datang dengan niat seperti itu. Banyak yang hanya ingin tahu. Seorang yang kedapatan menangis di alun-alun utara ternyata juga punya alasan lain: ia tidak menangis untuk Sri Sultan, tapi ia kena pentungan polisi, ketika berebut mendesak. Tak semua juga tanpa kegembiraan. Tempat penyewaan pakaian peranakan, baju tradisional untuk pemakaman, laris. Bahkan juga penjahit, yang bekerja ekstra untuk melayani pesanan mendadak. Orang Yogya, termasuk mahasiswa, rupanya ingin ikut berduka ke Imogiri. Toko karangan bunga pada gilirannya ketawa. “Baru kali ini kami menikmati jerih payah membangun kios ini sejak 25 tahun lalu,” kata Wiro, pemilik kios bunga. Ia mendapat 250 pesanan. Harganya dari 10 ribu hingga Rp 300 ribu. Tapi bagaimanapun, malam itu adalah malam berdoa. Sebanyak 90 kelompok pengajian tampak bersembahyang di samping jenazah — meskipun, untuk menghormati Sultan, mereka tak pernah bisa lebih dekat dari 10 meter di bangsal yang berumur 232 tahun itu.

Beberapa kali, bergiliran, rombongan wanita berbaris. Mukena mereka yang putih membentuk kontras yang syahdu pada latar bangsal yang merah dan oranye itu. Mereka khusyuk, di tepi sebuah ruangan luas yang redup. Di atas, yang ada hanya 48 buah lampu 40 watt, sumber-sumber cahaya yang terserak di langit-langit pendopo dalam kap-kap yang berukir. Dan dalam ketemeraman yang sama, satu rombongan biarawati Katolik hadir dalam doa, sementara di lantai lebih bawah ada sederet orang bersemadi cara Jawa. Dari sini pula terdengar seorang meratap, “Duh, Gusti, nyuwun pangapunten…” (Duhai, Paduka, maafkanlah hamba). Tapi suasana berkabung yang mencekam sesungguhnya berlangsung sebelum itu: Jumat pagi, ketika jenazah tiba dari Lapangan Udara Adisucipto. Suasana sangat hening, sejak dari alun-alun utara, tempat hanya ada suara wanita membaca Quran di menara masjid. Harum melati dan mawar dan dupa di mana-mana, dan tak mengherangkan: menurut B.R.A.Y. Kuswarjanti, seorang putri Sultan, ada tiga kuintal melati dan sekuintal mawar dipakai di pekabungan itu — dua kuintal di antaranya sumbangan Universitas Gadjah Mada. Apalagi di halaman Bangsal Ponconiti, di bawah relung Bale Antiwahono, di depan Gerbang Sri Manganti — semuanya di arah masuk utara Istana. Kira-kira setengah jam setelah lonceng keraton Kiai Brajanala disentakkan 9 kali, mobil ambulans yang dirakit istimewa — disiapkan dalam dua hari dengan nomor AB 9901 AA, datang. Tubuh Hamenku Buwono IX terbujur di dalamnya, dalam sebuah peti mati dari Amerika yang seberat 350 kilo dan panjang tiga meter. Untuk kedatangannyalah semua menunggu. Di pelataran dan di sekitar Bale Antiwahono, sepasukan elite ABRI, di bawah Kolonel Suranto, Dan Rem 071 Purwokerto, siap. Warna-warna baret mereka, merah, hijau, jingga, dan biru tua nampak seperti berkilat di bawah matahari pagi dan dikelilingi warna bangunan keraton yang redup itu. Empat belas prajurit Kopassus dengan baju tempur akan mengangkat peti yang berat itu, sementara 10 prajurit berbaret hijau dari Kostrad, tegak di sebelah kiri dan kanan ruangan, berdiri menyiapkan tembakan salvo.

Begitu ambulans tiba, para abdi dalem dalam pakaian peranakan yang biru gelap duduk bersimpuh di tanah. Seorang yang kebetulan berada dekat jenazah, tetap tegak, tapi ia memejamkan matanya seperti semadi. Para pangeran, calon menantu, dan para istri Sultan, termasuk Ny. Norma atau K.R.A. Nindyokirono yang baru datang dari Jakarta bersama jenazah, berdiri. Mangkubumi, putra tertua Sultan, dan Menteri Soepardjo Rustam, berjajar. Soepardjo Rustam bertugas menyerahkan jenazah dari pemerintah ke tangan keluarga. Mangkubumi, tinggi tegap dengan mengenakan kain bercorak Tirtoteja yang agak terang, dan dengan keris upacara Toya Tinaban di pinggang, mewakili keluarga. Tiba-tiba, peristiwa di luar acara terjadi. Seorang perempuan tua mendesak maju, menyeruak di antara para kerabat dekat keraton. Para petugas dan abdi dalem kaget, lalu mencegahnya. Tapi wanita itu lalu menjeritkan tangis yang menyayat dalam keheningan itu. Ia setengah memprotes, kenapa ia dihalangi, “Apa mentang-mentang saya ini rakyat kecil, lantas tak boleh melihat Sultan.” Tak ada sebenarnya yang tak boleh melihat Sultan raja yang begitu disenangi banyak orang itu, sultan yang mungkin lebih besar ketimbang raja Mataram lainnya itu, termasuk Sultan Agung (lihat Kolom Umar Kayam, halaman 91).

Belasungkawa untuknya telah jadi sesuatu yang universal. Presiden Reagan, yang telah menyediakan pesawat khusus kepresidenan Air Force Two, sebuah Boeing 707 berwarna putih-biru muda, juga mengirimkan kawat ke Presiden Soeharto, “Saya bersedih hati mendengar meninggalnya salah satu dari pahlawan negeri tuan….” Sultan Brunei mengirimkan seorang menteri, utusan khusus buat perkabungan ini. Presiden Soeharto — yang dekat dengan Sultan selama gerilya sampai dengan ketika harus memimpin Indonesia dari reruntukan ekonomi Orde Lama — bahkan menyempatkan menginap semalam di Gedung Agung sebelum paginya mengantar jenazah Sultan menjelang diberangkatkan ke Imogiri. Di depan Presiden pagi itulah peti, yang diletakkan di altar yang ditutupi batik cokelat keemasan, corak ‘Kampuh Tengahan’, dan diselimuti Sang Merah Putih, dibuka. Di dalamnya Sri Sultan terbungkus pakaian putih secara Islam. Mungkin karena ia wafat di AS, ia sempat tak diberi pakaian adat Jawa. Mungkin juga karena ia tak memerlukan itu lagi. Aturan adat toh tak dilupakan: di jenazah itu ada untaian melati bawang sepanjang semeter, dua kendi, kain mori putih, sapu lidi dan kentongan bambu — suatu syarat karena almarhum dimakamkan di hari Sabtu. Kemudian gending Monggang yang lirih dan suram itu pun berbunyi, dilantunkan oleh gamelan Kiai Guntur Laut — konon berasal dari zaman Majapahit di abad ke-14.

Jenazah, pada jam 08.30 itu, diangkat oleh 14 prajurit Kopassus, bersama dengan para pangeran. Di bawah payung agung Songsong Jene, perjalanan kebesaran ke bukit Imogiri dimulai. Langkah pelan, dengan Pak Harto dan Ibu Tien di antara pengiring yang hening itu, menapak ke arah selatan. Di Regol (Pintu) Magangan, peti dengan tubuh raja itu pun dinaikkan ke kereta berkuda yang telah menanti. Presiden, Pangeran Poeroebojo, dan Pangeran Mangkubumi melepas. Dari sini Sri Sultan Hamengku Buwono IX tak kembali lagi. Zaim Uchrowi, Budiono Darsono, Priyono B. Sumbogo, Goenawan Mohamad. Sumber: tempointeraktif.com, Foto koleksi pribadi mastonie-go2blog.blogspot.com. sumber :http://jogjakini.wordpress.com/2012/02/11/ketika-setengah-juta-manusia-mengiringi-pemakaman-sri-sultan-hb-ix/

| Tinggalkan komentar

Ketika Dana Tower Itu Ada

Rasanan Dana Tower

Dana 10.000.000 itu mutlak milik warga RT 4, atas dasar pemberian konpensasi pendirian tower di wilayah RT 04. Ijin pendidirian tower adalah Ijin lingkungan, dengan radius 90 m. Atas dasar tali kasih dari warga RT 04 maka RT 03 dan 05 di beri Rp. 500.000,-

Dengan pertimbangan :

  1. Dana itu multlak menjadi hak RT 04 karena hanya ijin lingkungan (radius 90 m)
  2. Warga RT 03 dan RT 05 telah terbebas dari hutang pengaspalan jalan PPIP th 2009, Dana konpensasi dari pembuatan pol Po. Efisiensi yang seharusnya milik RT 04 (Rp. 4.500.000) telah di berikan untuk menutup kekurangan pengaspalan jalan  PPIP 2009. Seharusnya warga RT 3,  4 dan 5 yang melunasi kekurangan tersebut.
  3. Warga RT 04 mempunyai program untuk membeli pompa air dan perlengkapannya guna mensuplai air bersih untuk warga RT 04. Dari Dana sebesar itupun maka Warga RT 04 masih masih harus menambah iuran lagi.
  4. Warga di luar RT 04 terjebak dalam isu bahwa RT mereka mereka akan mendapat kas   Rp. 3.000.000. Oleh karena itu mereka tidak mau menerima uang Rp. 500 ribu tersebut. Yang menjadi masalah adalah siapa si penebar isu bahwa RT 3 dan 5 akan mendapatkan dana sebesar itu? Sepengetahuan saya belum ada keputusan rapat yang menyatakan bahwa RT 3 dan 5 akan mendapat kas   Rp. 3.000.000.

Rasanan Sisa Dana LMPD

Sehubungan dengan telah berakhirnya kepengurusan LMPD di tahun 2010 maka pengurus telah menyampaikan laporan pertanggungjawaban (LPJ) di forum warga tanggal 12 Agustus 2010 (terlampir)

Maka masih ada sisa dana kas LMPD sebesar Rp. 2.278.500,- yang sekarang ini berada di tempat BP. Suratman RT 04 karena waktu itu tidak ada seorangpun yang bersedia membawanya. Dana tersebut merupakan murni kas LMPD, bukan sisa Dana Gotong Royong dari pemerintah, karena dana gotong royong sendiri telah habis di gunakan seperti dalam laporan.

Dana sisa Kas LPMD itu bisa segera di cairkan semestinya dalam forum resmi. Jadi dalam hal ini, mohon segera mengadakan pertemuan antara warga RT 03, 04, dan 05 sementara RT 01, dan 02 mestinya juga punya hak atas kas tersebut.

Harapan.

  1. Antar warga seharusnya bisa bermusyawarah tanpa harus saling menncari kesalahan pihak lain.
  2. Jangan suka melempar isu atau membuat komentar yang justru akan membuat warga resah.
  3. Mengedepankan rasa saling menghargai dan saling menghormati
  4. Saling menumbuhkembang rasa persatuan dan kesatuan serta jangan berbuat atau berprilaku yang sebaliknya.
  5. Serta ingat pepatah “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak
Sampingan | Posted on by | Tinggalkan komentar

Korban Kecelakaan

62% Kemiskinan Akibat Kecelakaan Lalu Lintas

SEMARANG, suaramerdeka.com – Banyaknya korban meninggal dunia, luka berat, dan cacat berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat yang menyebabkan pemiskinan. Secara nasional, tercatat 62% keluarga jatuh miskin setelah salah satu anggota keluarganya meninggal karena kecelakaan. Secara nasional, kerugian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp 205-210 trilyun setiap tahunnya.

Berdasarkan kenyataan itulah, Direktorat Lalu Lintas Polda Jateng bertekad mengurangi angka kecelakaan hingga 50%.

“Korban kecelakaan pasti memerlukan biaya besar untuk rumah sakit jika luka. Belum lagi kalau kepala keluarga meninggal. Maka mata pencaharian akan hilang, inilah yang menyebabkan pemiskinan,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Jateng, Kombes M Naufal Yahya, Jumat (2/12).

Ditlantas juga mempersiapkan berbagai program untuk menekan angka kematian akibat kecelakaan. Di Indonesia, menurut Naufal, kematian akibat kecelakaan sangat besar, yakni sekitar 30 ribu orang setiap tahun. “Di semarang perkiraan saya sekitar 5 ribu,” kata Ditlantas yang belum ada sebulan menjabat ini.

Mantan Kabag Kamsel Korlantas Polri itu membuat langkah-langkah berdasarkan instruksi Polri melalui Program Nasional Dekade Aksi Keselamatan. Program yang di-launching 20 Juli lalu oleh Wakil Presiden Budiono itu merupakan resolusi WHO untuk menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di dunia 2011-2020.

Program tersebut mempunyai lima pilar yang harus diperhatikan. Yakni manajemen keselamatan, rekayasa jalan, kendaraan, peningkatan kesadaran dan kemampuan manusia dalam berkendara serta respon setelah kejadian kecelakaan.

“Kita akan mulai dengan membuat data base kecelakaan; dari angka kecelakaan, korban, kerugian, faktor penyebab, semuanya. Tanpa data yang benar kita tidak bisa buat rencana startegis,” tukasnya. ( Anton Sudibyo / CN33 / JBSM )

| Tinggalkan komentar

Etika Berkendara

Sebelum kita lebih jauh lagi bercerita tentang etika berkendara hingga timbul keamanan dan kenyamanan perlu kita tinjau kembali ada 2 hal yang perlu kita ketahui hingga akan tercipta suatu kondisi yang nyaman dan selalu merasa aman dalam berkendaraan yaitu :
1. Faktor intern (Dalam)
Faktor intern adalah faktor yang terdapat dalam pribadi pengendara yaitu segala sesuatu yang menunjang hingga terciptanya rasa aman dan nyaman dalam berkendaraan ialah sikap ketika kita berkendara.

Ketika kita dituntut untuk mematuhi peraturan lalulintas yang di buat olek pihak berwenang dalam hal ini polisi lalu lintas yang dibuat tidak lain untuk terciptanya rasa aman dan nyaman dalam berkendaraan. Namun nyatanya sangat minim kesadaran pengendara untuk mematuhinya, jauh dari pada itu suatu etika yang sangat salah ketika sebuah pabrik kendaraan bermotor telah mendesain kendaraan bermotor itu dengan segala macam pertimbangan untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan dalam berkendaraan tapi banyak dari sikap pengendara yang dengan seenaknya mendesain ulang tanpa pertimbangan dan pemikiran tentang keselamatan dan kenyamanan dalam berkendara.

Suatu contoh yang sangat umum dapat kita lihat ketika tidak sedikit pengendara yang membuka kaca spion tampa memikirkan akibatnya bahwa suatu pabrik kendaraan bermoror memakia kaca spion pada kendaraan untuk kemudahan kita dalam melihat kondisi belakang kita saat dalam berkendaraan.

2. Faktor Ekstern (Luar)
Untuk faktor ekstern yang perlu kita ketahui adalah suatu sikap yang timbul karena ada dorongan atau pengaruh dari luar. Biasanya terjadi ketika lingkungan tepat kita tinggal atau komunitas kita sedang ngetren atau asyik dalam memodif kendaraannya. Tetapi yang salah dari modif itu adalah tidak memperhatikan sama sekali terhadap keselamatan dan kenyamanan dalam berkendaraaan.

Hal-hal yang harus dimiliki/dilakukan oleh seorang pengemudi

Pengemudi harus punya Lisensi Card (SIM)
Pengemudi harus selalu memakai kenderaan yang layik jalan sesuai standar, baik tingkat emisi, kebisingan, kelengkapan atribu t (lampu, rem, spion, ban, dll)
Pengemudi harus memahami dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas dengan benar
Pengemudi harus selalu memakai sabuk pe ngaman (kenderaan roda empat ke atas), helm bagi kenderaan roda dua dan tiga
Pengemudi dilarang memakai NAZA (Narkoba dan Zat Aditive)
Pengemudi dilarang memakai Handphone, ipod (Handset buat mendengar musik, radio online, dll)
Pengemudi dalam perjalanan jarak jauh dilarang mengkonsumsi minuman berkarbonate karena dapat membuat ngantuk
Pengemudi dilarang berkenderaan jika n gantuk
Pengemudi dilarang kebut-kebutan
Pengemudi harus selalu waspada deng an lingkungannya.

Teknik berkendara yang baik dan benar

1. Melihat.
2. Mengidentifikasi,
3. Memperkirakan.
4. Mengambil keputusan,
5. Melaksanakan keputusan.

Kecelakaan lalu lintas (pasal 27 uu.no.14 th 1992)
(1) Pengemudi yang terlibat kecelakaan lalu linatas, wajib :
a. Menghentikan kendaraan
b. Menolong orang yang menjadi korban laka.
c. Melaporkan laka tsb kpd kepolisian terdekat.
(2)apabila dlm keadaan memaksa tidak dapat melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b,tetap diwajibkan segera melaporkan diri kepada kepolisian terdekat.

Penggunaan jalur jalan (pasal 51 pp. No. 43 th 1993)
1. Tata cara berlalu lintas mengambil jalur jalan sebelah kiri
2. Penggunaan selain jalur kiri apabila :
a. Melewati kendaraan didepan
b. Ditunjuk / ditetapkan petugas yg berwenang

Tata cara melewati
(pasal 52 pp. No. 43 th 1993)
1. Harus mempunyai pandangan yang bebas & menjaga ruang yang cukup bagi kendaraan yg dilewatinya;
2. Mengambil lajur/jalur sebelah kanan kendaraan yang dilewatinya;
3. Dalam keadaan tertentu boleh sebelah kiri, bila :
a. Lajur kanan macet
b. Bermaksud belok kiri

Peraturan yang telah di buat bukan untuk dilanggar tetapi untuk di taati karena yakinlah ketika kita mengendarai kendaraan dengan patuh dan taat pada peraturan, maka rasa aman dan nyaman akan hadir dalam setiap pengendara, dan perlu kita ketahui bersama tidak ada bahwa tidak ada peraturan lalu lintas yang dibuat merugikan pengendara.

Diposkan oleh ### JULIANTI ###

| Tinggalkan komentar

Nikmatnya Sedekah

NIKMATNYA SEDEKAH Nov 3, ’08 3:01 AM
untuk semuanya

Misalkan gaji anda hanya Rp.1 juta, sedangkan kebutuhan mencapai Rp.3 juta, bagaimana cara menutupnya dengan sedekah? Taruhlah setelah mendapat pencerahan, anda berniat sedekah sesuai anjuran agama, sekitar 2,5% dari penghasilan. Berarti sedekah anda 2,5% x Rp.1 juta = Rp.25.000,-. Secara fisik, uang anda berkurang (Rp.1 juta – Rp.25.000,-) menjadi Rp.975.000,-, namun secara metafisik uang anda sebenarnya Rp.975.000,-+Rp.250.000,- (Allah menjanjikan setiap sedekah minimal dikalikan 10) = Rp.1,25 juta. Jauh dibawah kebutuhan, ’kan? Bagaimana jika sedekah dinaikkan menjadi 10%? Hitung sendiri detailnya, tetapi paling-paling anda hanya mendapat Rp.1,9 juta. Tetap jauh panggang dari api. Nah, agar sedekah itu mentok, titk tolaknya bukan dari pendapatan, tetapi kebutuhan. Jadi, jika anda bersedekah 10% (10%x 3juta= Rp.300.000,-), “balasannya” kira-kira Rp.700.000,- (sisa gaji) + Rp.3 juta (sedekah dikalikan 10) = Rp.3,7 juta. Sudah melewati target? Pasti!
(Ustad Yusuf Mansyur; INTISARI, Oktober 2006)
.
Kesimpulan :
Agama Islam memberlakukan 3 jenis zakat sebagai manifestasi dari anjuran tersebut :
1. Zakat harta, setahun sekali sebesar 2,5 % dari jumlah harta.
2. Zakat penghasilan, perkebunan, perniagaan dan lain-lain sebesar 2,5 % dari penghasilan perbulan.
3. Zakat fitrah, 2,5 kg beras perjiwa setiap tahun.

BAHAGIA :
- Kalau kau ingin bahagia 1 (satu ) jam maka tidur sianglah.
- Kalau ingin bahagia 1 ( satu ) hari maka pergilah memancing.
- Kalau kau ingin bahagia 1 (satu) bulan maka kawinlah.
- Kalau kau ingin bahagia 1 ( satu ) tahun maka warisi harta orang tua.
- Kalau kau ingin bahagia selama-lamanya maka bantulah orang lain.

HIDUPLAH DENGAN :
1. BER-IBADAT sebagaimana Nabi/Rasul beribadat.
2. BER-PRINSIP dalam hidup sebagai PENGABDI.
3. BER-ABDI dalam mental sebagai PEJUANG.
4. BER-JUANG dalam kegigihan dan ketabahan sebagai PRAJURIT.
5. BERKARYA dalam Pembangunan sebagai PEMILIK.

| Tinggalkan komentar

Shohibul Qurban th 2011/1432 H Masjid Al Ma arij Mancasan

Daftar Nama Shohibul Qurban th 2011/1432 H Masjid Al Ma arij Mancasan

| Tinggalkan komentar

Qurban 2011

Pengertian Udh-hiyah
Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)
Keutamaan Qurban
Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)
Hadis di atas didla’ifkan oleh Syaikh Al Albani (Dla’if Ibn Majah, 671). Namun kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau seharga dengan hewan qurban, atau bahkan lebih utama dari pada sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Bukan semata-mata nilai binatangnya. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)

Hukum Qurban
Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat:

Pertama: Wajib bagi orang yang berkelapangan. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad beserta beberapa ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: “Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…” (lih. Syarhul Mumti’, III/408) Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
Pendapat kedua menyatakan Sunnah Mu’akkadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih). Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya shahih) Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (lihat Al Muhalla 5/295, dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah II/367-368, dan Taudhihul Ahkaam, IV/454).
Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika dijabarkan semuanya menunjukkan masing-masing pendapat sama kuat. Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasehatkan: “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam. (Tafsir Adwa’ul Bayan, 1120).

Yakinlah…! Bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (HR. Al Bukhari 1374 & Muslim 1010).
Hewan yang Boleh Digunakan untuk Qurban
Hewan qurban hanya boleh dari jenis Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak). Dalilnya adalah firman Allah yang artinya, “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (Qs. Al Hajj: 34). Dalam bahasa arab, yang dimaksud Bahiimatul Al An’aam hanya mencakup tiga binatang yaitu onta, sapi atau kambing. Oleh karena itu, berqurban hanya sah dengan tiga hewan tersebut dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406) Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’ III/409)
Seekor Kambing untuk Satu Keluarga
Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih, lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266)
Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya qurban tahun ini untuk bapaknya, tahun depan untuk ibunya, tahun berikutnya untuk anak pertama, dan seterusnya. Sesungguhnya karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban, sebelum menyembelih beliau mengatakan: “Yaa Allah ini – qurban – dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud 2810 & Al Hakim 4/229 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 4/349). Berdasarkan hadis ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengatakan: “Kaum muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berqurban dari umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan onta 10 orang…” adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang dan qurban onta hanya boleh dari maksimal 10 orang.
Namun seandainya ada orang yang hendak membantu shohibul qurban yang kekurangan biaya untuk membeli hewan, maka diperbolehkan dan tidak mempengaruhi status qurbannya. Dan status bantuan di sini adalah hadiah bagi shohibul qurban. Apakah harus izin terlebih dahulu kepada pemilik hewan? Jawab: Tidak harus, karena dalam transaksi pemberian sedekah maupun hadiah tidak dipersyaratkan memberitahukan kepada orang yang diberi sedekah maupun hadiah.
Ketentuan Untuk Sapi & Onta
Seekor Sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, “Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536, Al Wajiz, hal. 406).
Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.
Arisan Qurban Kambing?
Mengadakan arisan dalam rangka berqurban masuk dalam pembahasan berhutang untuk qurban. Karena hakekat arisan adalah hutang. Sebagian ulama menganjurkan untuk berqurban meskipun harus hutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dikatakan oleh Sufyan Ats Tsauri dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36)[1]. Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah aqiqah. Beliau menyarankan agar orang yang tidak memiliki biaya aqiqah agar berhutang dalam rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran.
Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin dan ulama tim fatwa islamweb.net dibawah bimbingan Dr. Abdullah Al Faqih (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 & 28826). Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: “Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban.” (Syarhul Mumti’ 7/455). Bahkan Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi qurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab: “Jika di hadapkan dua permasalahan antara berqurban atau melunaskan hutang orang faqir maka lebih utama melunasi hutang, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (lih. Majmu’ Fatawa & Risalah Ibn Utsaimin 18/144).
Namun pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika qurban terkait dengan orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau hutang yang jatuh temponya masih panjang. Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada qurban terkait dengan orang yang kesulitan melunasi hutang atau orang yang memiliki hutang dan pemiliknya meminta agar segera dilunasi.
Dengan demikian, jika arisan qurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berqurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. Wallahu a’lam.
Hukum Qurban Kerbau
Para ulama’ menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya dianggap sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah 2/2975). Ada beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau. Baik dari kalangan Syafi’iyah (lih. Hasyiyah Al Bajirami) maupun dari madzhab Hanafiyah (lih. Al ‘Inayah Syarh Hidayah 14/192 dan Fathul Qodir 22/106). Mereka menganggap keduanya satu jenis.
Syaikh Ibn Al Utasimin pernah ditanya tentang hukum qurban dengan kerbau.

Isi Pertanyaan:
“Kerbau dan sapi memiliki perbedaan adalam banyak sifat sebagaimana kambing dengan domba. Namun Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi tidak merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al An’am 143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?”
Beliau menjawab:
“Jika kerbau termasuk (jenis) sapi maka kerbau sebagaimana sapi namun jika tidak maka (jenis hewan) yang Allah sebut dalam alqur’an adalah jenis hewan yang dikenal orang arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang arab.” (Liqa’ Babil Maftuh 200/27)
Jika pernyataan Syaikh Ibn Utsaimin kita bawa pada penjelasan ulama di atas maka bisa disimpulkan bahwa qurban kerbau hukumnya sah, karena kerbau sejenis dengan sapi. Wallahu a’lam.
Urunan Qurban Satu Sekolahan
Terdapat satu tradisi di beberapa lembaga pendidikan di daerah kita, ketika idul adha tiba sebagian sekolahan menggalakkan kegiatan latihan qurban bagi siswa. Masing-masing siswa dibebani iuran sejumlah uang tertentu. Hasilnya digunakan untuk membeli kambing dan disembelih di hari-hari qurban. Apakah ini bisa dinilai sebagai ibadah qurban?
Perlu dipahami bahwa qurban adalah salah satu ibadah dalam islam yang memiliki aturan tertentu sebagaimana yang digariskan oleh syari’at. Keluar dari aturan ini maka tidak bisa dinilai sebagai ibadah qurban, alias qurbannya tidak sah. Di antara aturan tersebut adalah masalah pembiayaan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, biaya pengadaan untuk seekor kambing hanya boleh diambilkan dari satu orang. Oleh karena itu kasus tradisi ‘qurban’ seperti di atas tidak dapat dinilai sebagai qurban. Karena biaya pengadaan kambing diambil dari sejumlah siswa.
Berqurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?

Berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia dapat dirinci menjadi tiga bentuk:
• Orang yang meninggal bukan sebagai sasaran qurban utama namun statusnya mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya sementara ada di antara keluarganya yang telah meninggal. Berqurban jenis ini dibolehkan dan pahala qurbannya meliputi dirinya dan keluarganya, termasuk yang sudah meninggal.
• Berqurban khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari mayit. Sebagian ulama madzhab hambali menganggap ini sebagai satu hal yang baik dan pahalanya bisa sampai kepada mayit, sebagaimana sedekah atas nama mayit (lih. Fatwa Majlis Ulama Saudi no. 1474 & 1765). Namun sebagian ulama’ bersikap keras dan menilai perbuatan ini sebagai satu bentuk bid’ah, mengingat tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada riwayat bahwasanya beliau berqurban atas nama Khadijah, Hamzah, atau kerabat beliau lainnya yang telah meninggal, mendahului beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa berqurban atas nama orang yang sudah meninggal secara khusus tanpa ada wasiat sebelumnya adalah tidak disyariatkan. Karena Nabi r tidak pernah melakukan hal itu. Padahal beliau sangat mencintai keluarganya yang telah meninggal seperti istri beliau tercinta Khadijah dan paman beliau Hamzah.
• Berqurban khusus untuk orang yang meninggal karena mayit pernah mewasiatkan agar keluarganya berqurban untuk dirinya jika dia meninggal. Berqurban untuk mayit untuk kasus ini diperbolehkan jika dalam rangka menunaikan wasiat si mayit. (Dinukil dari catatan kaki Syarhul Mumti’ yang diambil dari Risalah Udl-hiyah Syaikh Ibn Utsaimin 51)
Umur Hewan Qurban
Dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih)
Musinnah adalah hewan ternak yang sudah dewasa, diambil dari kata sinnun yang artinya gigi. Hewan tersebut dinamakan musinnah karena hewan tersebut sudah ganti gigi (bahasa jawa: pow’el). Adapun rincian usia hewan musinnah adalah:
No. Hewan Usia minimal
1. Onta 5 tahun
2. Sapi 2 tahun
3. Kambing jawa 1 tahun
4. Domba 6 bulan (domba Jadza’ah)
(lihat Syarhul Mumti’, III/410, Taudhihul Ahkaam, IV/461)

Apakah yang menjadi acuan usianya ataukah ganti giginya?

Yan menjadi acuan hewan tersebut bisa digolongkan musinnah adalah usianya. Karena penamaan musinnah untuk hewan yang sudah genap usia qurban adalah penamaan dengan umumnya kasus yang terjadi. Artinya, umumnya kambing yang sudah berusia 1 tahun atau sapi 2 tahun itu sudah ganti gigi. Disamping itu, ketika para ulama menjelaskan batasan hewan musinnah dan hewan jadza’ah, mereka menjelaskannya dengan batasan usia. Dengan demikian, andaikan ada sapi yang sudah berusia 2 tahun namun belum ganti gigi, boleh digunakan untuk berqurban. Allahu a’lam.

Berkurban dengan domba jadza’ah itu dibolehkan secara mutlak ataukah bersyarat

Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. An Nawawi menyebutkan ada beberapa pendapat:
Pertama, boleh berqurban dengan hewan jadza’ah dengan syarat kesulitan untuk berqurban dengan musinnah. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibn Umar dan Az Zuhri. Mereka berdalil dengan makna dlahir hadis di atas.
Kedua, dibolehkan berqurban dengan domba jadza’ah (usia 6 bulan) secara mutlak. Meskipun shohibul qurban memungkinkan untuk berqurban dengan musinnah (usia 1 tahun). Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama. Sedankan hadis Jabir di atas dimaknai dengan makna anjuran. Sebagaimana dianjurkannya untuk memilih hewan terbaik ketika qurban.
Insyaa Allah pendapat kedua inilah yang lebih kuat. Karena pada hadis Jabir di atas tidak ada keterangan terlarangnya berqurban dengan domba jadza’ah dan tidak ada keterangan bahwa berqurban dengan jadza’ah hukumnya tidak sah. Oleh karena itu, Jumhur ulama memaknai hadis di atas sebagai anjuran dan bukan kewajiban. Allahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim An Nawawi 6/456)

Cacat Hewan Qurban

Cacat hewan qurban dibagi menjadi 3:
a. Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban, ada 4 [2]:
- Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya
Jika butanya belum jelas – orang yang melihatnya menilai belum buta – meskipun pada hakekatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh diqurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. ulama’ madzhab syafi’iyah menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.
- Sakit dan jelas sekali sakitnya. Tetapi jika sakitnya belum jelas, misalnya, hewan tersebut kelihatannya masih sehat maka boleh diqurbankan.
- Pincang dan tampak jelas pincangnya
Artinya pincang dan tidak bisa berjalan normal. Akan tetapi jika baru kelihatan pincang namun bisa berjalan dengan baik maka boleh dijadikan hewan qurban.
- Sangat tua sampai-sampai tidak punya sumsum tulang
Dan jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari 4 jenis cacat di atas maka lebih tidak boleh untuk digunakan berqurban. (lih. Shahih Fiqih Sunnah, II/373 & Syarhul Mumti’ 3/294).
b. Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban, ada 2 [3]:
- Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong
- Tanduknya pecah atau patah
(lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/373)
c. Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban (boleh dijadikan untuk qurban) namun kurang sempurna.
Selain 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak berpengaruh pada status hewan qurban. Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung. Wallahu a’lam (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/373)
Footnotes:
[1] Sufyan At Tsauri rahimahullah mengatakan: “Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta qurban. Beliau ditanya: “Kamu berhutang untuk beli unta qurban?” beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman: لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ (kamu memperoleh kebaikan yang banyak pada unta-unta qurban tersebut) (Qs. Al Hajj: 36). (lih. Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36)
[2] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang cacat hewan apa yang harus dihindari ketika berqurban. Beliau menjawab: “Ada empat cacat…dan beliau berisyarat dengan tangannya.” (HR. Ahmad 4/300 & Abu Daud 2802, dinyatakan Hasan-Shahih oleh Turmudzi). Sebagian ulama menjelaskan bahwa isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya ketika menyebutkan empat cacat tersebut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasi jenis cacat yang terlarang. Sehingga yang bukan termasuk empat jenis cacat sebagaimana dalam hadis boleh digunakan sebagai qurban. (Syarhul Mumthi’ 7/464)
[3] Terdapat hadis yang menyatakan larangan berqurban dengan hewan yang memilki dua cacat, telinga terpotong atau tanduk pecah. Namun hadisnya dlo’if, sehingga sebagian ulama menggolongkan cacat jenis kedua ini hanya menyebabkan makruh dipakai untuk qurban. (Syarhul Mumthi’ 7/470)
***
Penulis: Ammi Nur Baits
Artikel http://www.muslim.or.id

| Tinggalkan komentar